Eksistensi Allah pada hakikatnya tidak mungkin bergeser, namun, pada kenyataannya terkesan mengalami pergeseran yang nampak dalam upaya manusia meresponi panggilan missions. Upaya “menyempitkan” makna, tujuan dan dampak dari pemahaman akan “kasih sejati dan misi” bagi umat-Nya disini bertolak belakang dengan kasih Allah yang tidak dapat dipisahkan dengan hakikat-Nya. Allah sendiri menginginkan agar kasih-Nya menjadi bagian dari umat tebusan-Nya”, maka disinilah hal “misi” menjadi implikasi logis dari eksistensi Allah sebagai Inisiator misi yang telah, sedang, dan terus dikerjakan melalui orang-orang pilihan-Nya pada setiap zamannya dalam (komunitas).