Ilmu Perbandingan Agama mengalami perbedaan yang menyolok apabila kita bandingkan antara yang terjadi di Barat dan Timur. Di Barat para peneliti mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk mengkonsolidasi penemuan mereka. Sedangkan di Timur sejak abad XVII dilanda oleh banjir kolonialisme dan imperialisine, sehingga tenaga dan pikiran mereka dikerahkan untuk membebaskan diri mereka dari kekejaman penjajah, oleh karena itu daya kreatif dan penelitian-penelitian pada masalah kebudayaan dan Agama belum sempat dilakukan oleh para Sarjana.1