Satu hal yang hingga saat ini belum tuntas dibicarakan mengenai Chairil Anwar adalah sajak-sajaknya yang terdapat dalam beberapa versi, sebagaimana nampak dalam Deru Campur Debu (DCD), Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (KT), Tiga Menguak Takdir (TMT), Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45, dan Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang.1 Ambillah contoh sajak “Aku” (versi DCD), yang dalam versi KT berjudul “Semangat”. Bait pertama sajak “Aku