Dalam era penuh kontradiksi antara relativisme nilainilai dan kebangkitan agamaagama ini, hikmat apakah yang masih dapat kita pelajari dari humanisme? Bagaimanakah sosok dan peran humanisme dalam masyarakat yang menjadi majemuk juga karena agamaagama seperti masyarakat indonesia? Pertanyaanpertanyaan ini terus menggelitik dan membawa saya pada apa yang dalam buku kecil ini saya sebut ‘humanisme lentur’. Banyak respons kritis dari para pendengar kuliah saya waktu itu mendorong saya untuk melengkapi dan mengokohkan argumen saya, tetapi hal itu tentu tidak akan menyudahi diskusi yang mungkin mun cul dari buku ini.